Rabu, 19 November 2008

Seni:

Melacak Genealogi Metal Hard Core

Oleh:A. Zaenurrofik, Penikmat Musick

Metal Hard Core (metal core), pada awal kemunculannya merupakan fusi dari konsep bermusik metal, yang digabungkan dengan teknik vocal Hard Core.Genre ini lahir untuk mengembalikan makna asali da
ri metal itu sendiri—yakni metal sebagai musik yang menghentak keras. Kekerasan dalam musik metal, semakin terdistorsi semenjak lahirnya genre New Metal.[1]

Metal Core mengalami perkembangan yang pesat di awal-awal tahun 2000. kejenuhan akan genre New Metal dan kerinduan akan kebangkitan metal dengan kemasan baru, semakin mmempercepat perkembangan aliran ini, yang bisa diukur dengan menjamurnya group-group musik baru yang mengambil aliran Metal Core seperti; Spineshank, Killswitch Engage, Lamb of god, Trivium, Shadows Fall, dll. Meskipun sebenarnya perlu dilakukan pemetaan ulang terhadap kecenderungan genre ini lebih dekat ke arah konsep apa—namun sudah terjadi generalisasi bahwa, setiap musik baru yang menggabungkan unsur musik metal dan unsur musik lain—seperti death metal, Black Metal, dan Speed Metal, selalu dilabeli aliran Metal Core.

Generalisasi ini sudah diterima secara luas oleh pecinta metal. Padahal, menurut hemat saya, tidak semua group band metal baru bisa dimasukkan ke dalam genre Metal Core. Beberapa group baru yang secara serampangan dimasukkan ke dalam genre ini seperti misalnya, The Black Dahli Murder, Lamb Of God, Children of Bodom, In Flames, Devil Driver, dan Arch Enemy. Kalau kita cermati konsep bermusik mereka, tentu akan jauh dari hakekat Metal Core. Konsep musik dari group-group tersebut berkecenderungan lebih dekat kepada genre lainnya. The Black Dahlia Murder misalnya, konsep bermusiknya lebih ke Death Metal. Penandanya adalah, mereka memainkan musik yang hampir-hampir menyerupai Death Metal. Beat-beat drumnya, sama sekali jauh dari tradisi bermusik Trash atau Speed Metal.

Teknik vocalnya juga tidak bisa dikategorikan masuk ke dalam teknik vocal Hard Core. Teknik ini lebih dekat kepada teknik vocal Black Metal, sementara selingan vocal growl, merupakan tradisi nge-growl ala Death Metal. Demikian pula dengan Lamb of God. Mereka dengan tegas menolak penyebutan khalayak atas konsep musik mereka yang dikategorikan sebagai Metal Core. Simaklah teknik vocal Blythe. Ia memadukan teknik “semi growl” yang dipadukan dengan scream ala Black Metal. Apalagi bagi Children of Bodom. Konsep bermusik mereka terkesan aneh dan unik karena tidak lazim seperti genre yang ada.
[2] Devil Driver, juga jauh dari Metal Core. Vocal Fafara yang Khas, tidak masuk dalam kategori Death atau Hard Core.

Barangkali ia mencoba untuk memadukan teknik vocal Growl ala Death Metal dengan tradisi bermusiknya sendiri, sehingga tercipta teknik vocal yang khas dan baru. Itulah salah kaprah yang diterima secara luas oleh para insan pecinta metal.
Didapati kesan, group-group band metal baru ini merindukan kejayaan metal dalam konteks sekarang. Simaklah beberapa album dari band baru ini yang “feel” nya terasa sangat dipengaruhi oleh Trash (seperti Trivium dan Shadows Fall), disemangati oleh Death Metal (seperti The Black Dahlia Murder dan Arch Enemy), diilhami oleh Black Metal (seperti Children of Bodom), meski banyak juga yang merindukan Hair Metal.
[3]
Yang barangkali kerap terlupakan oleh penikmat metal core adalah, mereka lupa unuk melacak asal-usul gen (genealogi) Metal Core. Melacak asal-usul berarti kita harus mencari beberapa referensi band-band metal sebelumnya yang menjadi inspirasi bagi lahirnya genre metal core. Menganalisa secara kesejarahan, akan memberikan pemahaman bahwa, tiada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba dan tiada sesuatu yang mendahuluinya—sehingga tiada kesan pemahaman yang ahistoris.


Sepanjang pengetahuan saya, band yang pertama kali memasukkan unsur hard core dalam tradisi metal adalah Anthrax. Diawal kemunculannya, mereka telah memasukkan unsur hard core. Album Among the Living misalnya, terasa unsur hard core pada musiknya, meskipun vocalnya tetap menggunakan teknik vocal trash laiknya trash pada jamannya. Dialbum-album berikutnya, Anthrax tetap memadukan unsur hard core dengan unsur metal dalam permainan musiknya. Baru di album Sound of White Noise, dengan pergantian Vocal-- Jhon Bush
[4], unsur hard corenya tak sekental album-album Anthrax sebelumnya. Barangkali ini juga menyesuaikan dengan karakter vocal Jhon Bush yang bening dan bersih. Panthera juga memasukkan unsur hard core dalam musiknya. Album Cowboy From Hell, Vulgar Display, dan album lainnya, banyak dijumpai unsur hard core nya.

Di dapati pula Demolition Hammer di album Time Bomb (1994). Mereka mengubah konsep musik mereka—yang sebelumnya Trash Death, dengan memasukkan beat-beat hard core, dan kesan hard core pada teknik vocalnya. Alex Marquez[5], merubah pola permainan drum menjadi lebih soft.[6]

Pun demikian dengan band Kreator. Perbedaaan dengan album meraka yang sebelumnya, seperti Coma of Soul, Pleasant to Kill ditemukan Pada album Cause for Conflict. Di album ini mereka memasukkan unsur hard core. Beat-beat mereka yang sebelumnya kencang, konstan, berkurang konstannya, dengan terasuki oleh beat-beat yang terputus-putus laiknya beat hard core.

Beberapa band-band metal besar tesebut di atas, menurut hemat saya, merupakan inspirator utama bagi kelahiran band-band metal core saat ini. Berdasar tesis, tak ada sesuatu yan muncul secara tiba-tiba tanpa terlebih dulu yang mendahului kemunculannya, atau yang menjadi sebab kemunculannya. Sebagai penegas, band-band metal core yang eksis saat ini secara eksplisit selalu menyampaikan ucapan erimaksih kepada band-band metal pendahulunya, yang banyak memberikan inspirasi bagi karya-karya mereka. Sehingga tidak lah berlebihan bahwa kerinduan akan metamorfosis metal yang tidak melupakan esensi kemetalannya terujud dalam band-band ekstrem saat ini.
_____________________
Tentang penulis:
Penulis adalah pengagum keindahan mahakarya Metal, Classic Rock, dan Blues yang lahir dari sentuhan tangan dingin para pencipta musik indah tersebut. Saat ini penulis masih suka blusukan di tempat-tempat di mana kaset/cd di jual untuk sekedar melihat atau jika punya uang, membeli kaset/cd tersebut.

Catatan Kaki:
[1] New metal muncul sebagai respon terhadap konsep bermusik lama, sehingga dalam konsep bermusik new metal ini banyak yang meninggalkan pakem bermusik metal sebelumnya, seperti meninggalakan tradisi speed melody, dan diganti dengan distorsi gitar saja , tempo permaninan musik yang tak se ekstrem metal sebelumnya, juga dari attitude, jarang dijumpai musisi yang menganut genre new metal memanjangkan rambut, memakai jaket kulit, dan beratribut serba hitam.
[2] Children of Bodom sebelumnya memainkan musik Black Metal.
[3] Seperti Avanged Seven Fold, yang dibeberapa albumnya memasukkan unsur hair metal. Mereka meramu beberapa konsep musik seperti punk, hard core, dan hair metal. Demikian pula dengan Still Remain, yang di album terbarunya banyak meninggalkan tenik vocal hard core, dan banyak ditemukan unsur hair metal didalamnya.
[4] Jhon Bush sebelumnya menjadi vocalist Band Armored Saint.
[5] Alex Marquez juga menjadi penggebuk drum pada Band Death Metal Malevolent Creation. Di sinilah kita bisa melihat piawaina Alex Marquez melakukan improvisasi musik. Di Malevolent Creation, gebukan drumnya, sangat rapat, variativ, dan full power. Sementara di demmolition Hammer pada album Time Bomb ini, ia merubah pola permainan rapatnya, untuk bereksperimen dengan memasukkan beat-beat hard core.
[6] Bandingklan juga album Time Bomb ini dengan album sebelumnya, seperti album Epidemic. Di sini akan ditemukan perbedaan konsep mereka. Di album Epidemic, masih kental unsur Trash-Death nya.




----------------------------------------------

Gagasan:



Kaum Muda dan Bangsa (Bermental) ‘Tempe’

Oleh: Ahmad Zaenurrofik, Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Kaum muda Indonesia masa lalu sebenarnya adalah kaum yang gigih. Sebagaimana manusia-manusia muda yang berjuang dalam sejarah, mereka bekerja keras menghadapi alam untuk memperjuangkan kehidupannya. Mereka suka berburu binatang dan selalu kembali untuk membangun alamnya. Mereka ingin menikah dan mlahirkan anak-anak yang kuat dan maju. Alam nusantara yang kaya dan meruah, membuat kaum muda Indonesia masa lalu menjadi manusia berkebudayaan.

Sayangnya, penindasan feudalisme kerajaan membuat produktifitas dan kerja keras kaum muda terhisap. Mereka harus dimobilisasi oleh bangsawan dan raja-raja untuk berperang, mereka dipisahkan dari orangtua dan kekasih yang dicintainya. Mereka bahkan harus bekerja keras di ladang-ladang tetapi hasilnya harus disetorkan ke pada keluarga raja-raja melalui upeti. Hanya sedikit kaum muda yang mendapatkan perlakuakn istimewa, yaitu anak-anak kalangan raja dan bangsawan yang mendapatkan pendidikan di istana dan berbagai fasilitas yang luar biasa.

Berlangsungnya tatanan feodalistik ini membuat produktifitas kaum muda tumpul dan kalau berkembang juga sangatlah lambat. Masalahnya corak produksi yang berbasis pada tanah ini tak memungkinkan terjadinya penemuan hal-hal baru. Berbeda dengan Barat yang mulai pada Abad ke-17 kaum mudanya sudah menikmati ilmu pengetahuan dan teknologi dan mampu mencipta hal-hal baru, kaum muda Indonesia masih terkungkung dalam masyarakat yang terbelakang. Dan sayangnya, penjajahan modern dari Barat (kolonialisme) ke nusantara juga tak merubah karakter mental produktif-kreatif di kalangan generasi muda.

Saat kekuatan Barat masuk ke Indonesia, kebodohan dan mentalitas terbelakang masih berupaya dibentuk oleh penjajah. Mental dan watak manusia dibentuk oleh suatu kondisi material-historis. Persenyawaan dengan keterbelakangan feudalisme dan kapitalisme-kolonial telah membuat bangsa ini menjadi bermental ‘terbelakang’ yang dalam hal tertentu kadang menjijikkan. Ada kepengecutan, keraguan, pesimisme, menjilat, dan tidak percaya diri atau tidak percaya pada kebenaran.

Bung Karno sendiri dalam ‘Penyambung Lidah Rakyat’ (1966: 45) mengatakan bahwa penjajahan (imperialisme) telah membuat bangsa kita menjadi “negeri tempe”. Bung Karno mengatakan: “Tempe adalah bungkah yang lunak dan murah terbuat dari kacang kedelai yang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Itulah kami jadinya. Kami terus-menerus dikatakan sebagai negeri yang lunak seperti kapas. Kami menjadi pengecut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun yang kami lakukan selalu salah. Kami menjadi rakyat seperti dodol dengan hati yang kecil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami menjadi bangsa yang hanya dapat membisikkan, ‘Ya, Tuan’. Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih mereka pegang teguh secara tidak sadar... Ejekan yang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menyebabkan kami yakin tentang hal tersebut. Dan keyakinan bahwa engkau adalah bangsa yang hina lagi bodoh adalah senjata yang ada dalam tangan penjajah. Imperialisme adalah kumpulan kekuatan jahat yang nampak dan tidak nampak”.

Apa yang dikatakan Bung Karno tersebut adalah mengenai imbas penjajahan ekonomi terhadap mental bangsa kita. Jika pada era feudalisme kerajaan rakyat dipaksa patuh pada raja-raja, saat kolonialisme datang rakyat juga masih diperlakukan sama, tentunya dengan ekploitasi dan penghisapan pada tenaga rakyat yang lebih telanjang dan tanpa malu.

Kapitalisme Gerus Jati Diri
Peringatan Bung Karno tentang penjajahan kapitalisme-imperialisme itu masih berlangsung hingga sekarang. Kapitalisme tersebut tumbuh hingga ia mengenyangkan lapangan ekploitasi dalam masyarakat Barat sendiri. Barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Timur, diekspor ke Timur kembali; jadi, Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih (over-produksi) di Barat. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk modal berlebih yang tak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Karenannya tak mengherankan jika kini kaum muda menjadi sasaran produk dari kapitalis asing. Caranya adalah agar kaum muda hanya mampu membeli dan meniru, agar kaum muda lebih merasa eksis berada di mall-mall atau mengonsumsi produk-produk. Kaum muda hanya dijadikan korban iklan agar mnjadi pembeli adiktif, dam agar kaum muda kita tak dapat mencipta, berpikir, kreatif. Tujuannya agar kapitalis Barat tak tersaingi dengan negara-negara seperti Indonesia: kalau tenaga produktif tumpul, maka kita diharapkan jadi pasar dari produk-produk kapitalis asing.

Selain itu, diciptakanlah psikologi individualisme yang membuat kaum muda cuek pada realitas kehidupan dan lingkungannya. Dan individualisme adalah sebab-musabab dari mundurnya kualitas kehidupan di negeri ini. Orang hanya tahu bahwa untuk meningkatkan kehidupan mereka harus bersaing: Persaingan adalah ‘mantra’ yang harus diucapkan dan dicekokkan pada tiap generasi sejak anak-anak. Kerjasama dan persatuan untuk menghadapi hidup yang kontradiktif dan pada dasarnya bersumber pada penjajahan (penindasan) dihilangkan dari kamus kemanusiaan. Ajaran persatuan dan perjuangan dari para pendiri bangsa (founding fathers) dihilangkan dari kamus yang seharusnya dibaca oleh kaum muda. Bung Karno telah mengingatkan pada kita: Jas Merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah! Dan anak-anak muda era kini telah kehilangan sejarah perjuangan, kehilangan prinsip dan idealisme. Mereka hanya mabuk cinta, cinta kacangan dan kebebasan ala lagu-lagu popular! Lalu bagaimanakah masa depan negeri ini ke depan? Wallahu’alam… []

---------------------------------------------------

Sabtu, 02 Agustus 2008

Dimuat di Koran Pak Oles, 16 Juni 2008 ::Resensi Buku FILSAFAT CINTA Nurani Soyomukti::

Menggugat Komersialisasi Cinta

Oleh: Ahmad Zaenurrofik, Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Judul Buku: ”Memahami Filsafat Cinta”
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Prestasi Pustaka, Surabaya
Cetakan: Pertama, Juni 2008
Tebal: xi + 186 halaman


Seorang pemikir Mazh
ab Frankfurt Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art Of Loving” menegaskan pentingnya relevansi Cinta untuk menjadi solusi bagi masyarakat kapitalis modern yang telah terdisintegrasi oleh ketimpangan sosial. Bagi Fromm, disintegrasi itu adalah cerminan dari eksistensi manusia yang tidak dapat mengatasi keterpisahan (separateness) ketika cinta itu sendiri tidak mungkin dibahas tanpa menganalisa eksistensi manusia itu sendiri. Menurut Fromm, ”teori apapun tentang cinta harus mulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia”.

Peradaban yang baik ditentukan oleh hubungan manusia yang dihiasi dengan penuh perhatian (mutual understanding) dan penghormatan. Fromm, misalnya, memberikan contoh mengenai hubungan dua orang yang sedang jatuh cinta. Tentunya mereka berdua saling memperhatikan. Dan cinta mereka bisa menyatukan individu dalam sebuah integrasi sosial. Cinta tidak membedakan ras, suku bangsa, agama, dan kelas sosial karena cinta membuat segalanya menjadi mungkin.

Cinta adalah jawaban bagi problem eksistensi manusia yang berasal secara alamiah dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan “meninggalkan penjara kesepian”. Tetapi penyatuan dalam cinta melebihi suatu simbiosis karena “cinta yang dewasa adalah penyatuan di dalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang”. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan “yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya”.

Sayangnya Cinta di era kapitalisme sekarang hanya menjadi barang dagangan (komoditas). Begitu banyaknya kisah cinta kacangan diumbar dalam lagu-lagu, sinetron, dan lain-lainnya. Karenanya komersialisasi Cinta semacam itu justru menunjukkan bahwa kata cinta dan prakteknya dalam hubungan sosial mengalami degradasi.

Atas kondisi semacam itulah buku ”Memahami Filsafat Cinta” ini keluar dari hati ”nurani” penulisnya, Nurani Soyomukti, seorang psikoanalis kebudayaan yang selalu konsisten menggugat budaya kapitalis dalam setiap tulisan-tulisannya. Begitu ”PD” (percaya diri) Si Penulis, ketika ia membuka buku ini dengan kalimat pembuka: ”Buku ini tak layak dibaca oleh mereka yang tak percaya pada Cinta” (hlm. 1).

Ternyata uraian di dalam buku ini juga sepadan dengan pernyataan itu. Penulis sepakat dengan Fromm bahwa cinta adalah maalah eksistensi manusia yang dibentuk oleh kondisi sosial. Cinta hanya akan dapat dijelaskan dengan menganalisa manusia dan menelisik bagaimana hubungan sosial dibangun. Dengan memanfaatkan pemikiran Karl Marx dalam ”Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Nurani begitu tegas menyatakan bahwa kepalsuan Cinta berawal dari alienasi (keterasingan) manusia dalam berhubungan. Tentu saja, dari pandangan maerialisme dialektis, keterasingan itu dapat dijelaskan secara objektif dari hubungan produksi kapitalis yang menindas dan menyengsarakan. Cinta pada akhirnya menjadi seruan moral dari para orang-orang munafik agar yang kaya membantu yang miskin tanpa mempertimbangkan bagaimana kekayaan yang didapat sesungguhnya diperoleh dari hubungan eksploitatif yang dilakukan terhadap orang-orang kaya.

Itulah yang menjadikan buku ini tak lebih dari tulisan-tulisan filosofis Marx yang dibahasakan dengan cara bertutur seorang Nurani. Terus terang belum banyak orang yang memahami arti filsafat Marx, karena Marx selama ini lebih banyak dianggap sebagai ’penjahat” hanya karena praktek diktatorisme komunis di beberapa negara—yang tentu saja lepas dari kesalahan Marx dan banyak faktor yang perlu dijelaskan, terutama karena serangan kapitalis dan deligitimasinya (’black-propaganda’) terhadap sosialisme-komunisme yang cukup berhasil.

Hanya sedikit yang tahu bagaimana Marx sesungguhnya seorang yang humanis dan romantis, serta konsisten dalam perjuangan kemanusiaan. Sebagaimana kita tahu dari buku ini yang banyak mngutip Marx, dalam filsafatnya ternyata banyak uraian Marx yang berbicara maalah Cinta dan kepercayaan yang bisa dibangun oleh manusia. Cita-cita Marx adalah: ”… Kemudian cinta hanya dapat ditukar dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan..” (hlm. 22).

Tentu cita-cita akan datangnya cinta sejati dalam hubungan social dianggap oleh penulis akan terjadi jika kapitalisme dapa dihancurkan dan tatanan demokratis telah muncul. Buktinya, kapitalismelah yang begitu agresif menggelorakan cinta hanya sebagai ilusi, hanya “sebagai kata-kata, bukan tindakan konkrit”.

Lihat saja, beberapa waktu lalu demam film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) menunjukkan bahwa kata “Cinta” benar-benar masih menjadi magnet bagi banyak orang, terutama remaja dan kaum muda. Tetapi sudahkah mereka memahami filsafat Cinta itu sendiri ataukah mereka hanya menjalani hubungan cinta yang dangkal dan tidak menunjukkan hakekat kemanusiaan itu sendiri.

Cinta bukanlah kata-kata, tetapi adalah tindakan konkrit yang diejawantahkan dalam kehidupan nyata. Demikianlah, buku ini adalah risalah Cinta yang sangat penting: renungan seorang filsuf muda yang telah menghasilkan berbagai karya (buku dan catatan-catatan budaya), Nurani Soyomukti.

Dengan menawarkan konsep Cinta yang akan membawa Anda pada pemahaman tentang cinta tang mendalam dan bermakna dalam hubungan antar manusia, buku ini menawarkan universalisasi hubungan Cinta. Lebih dari sekedar buku yang memberikan kiat-kiat membangun hubungan cinta eksklusif (pacaran dan pernikahan), buku ini mengkonstruksi sebuah pemahaman yang sangat utuh dan reflektif.

Membaca uraian kata-kata yang mencerahkan tetapi dikemas dengan bahasa yang tidak terlalu berat ini, memang akan membuat kita menemukan hal-hal baru yang disampaikan secara sentimental oleh Nurani. Maka inilah buku filsafat Cinta yang akan membawa kita pada pemahaman komprehensif tentang Cinta dan kisah kasih yang Anda jalin dalam kehidupan ini. Reflektif, humanis, enlighten, dan kaya akan landasan teoritik... Inilah ‘Ayat-Ayat Cinta Universal’ itu! []

:: Resensi Buku Saya "CINA: NAGA RAKSASA ASIA"::

Sang Naga Raksasa Baru Dunia

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)
http://ahmadmakki.wordpress.com/2008/07/26/sang-naga-raksasa-baru-dunia/

Judul : China Naga Raksasa Asia (Rahasia Sukses China Menguasai Dunia)
Penulis : A. Zaenurrorik
Penerbit : Garasi - Yogyakarta
Cetakan I : Juni - 2008
Tebal : 180 halaman

Tidak diragukan lagi, sebuah peradaban yang hingga kini kian menunjukk
an kejayaannya adalah negeri tirai bambu. Dengan penduduknya yang mencapai 1,3 milyar orang, China sudah berkembang pesat dan besar bahkan mengilhami peradaban-peradaban lain di jagat dunia ini. Lebih dari itu, kejayaan dan kemajuan perabadan China sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu kala dan berlangsung hingga sekarang.

China hari ini di sebut pula sebagai salah satu macan Asia yang sangat disengani di segala bidang. Mulai dari ekonomi, budaya, peadaban, ilmu pengetahuan dan teknologi hingga kepada sistem pertahanannya. Tidak luput juga pada bidang olahraga. Dimana tahun ini, China menjadi penyelenggara Olimpiade 2008 di Beijing.

Dalam tahun-tahun belakangan, kebangkitan China atau tepatnya pada bidang perekonomian di era globalisasi dan pasar bebas berkembang cepat dengan berasaskan ideologi khasnya yang disebut liberalisme-sosialisme. Seakan benar-benar telah mengguncang sendi-sendi kehidupan seluruh pelosok di dunia ini termasuk Indonesia.

Awalnya sebenarnya negeri Indonesialah yang diprediksikan lebih awal akan muncul sebagai macam Asia. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda akan adanya kebangkitan spektakuler bangsa ini. India bersama China malah jauh meninggalkan Indonesia yang kian terperosok bahkan kedua negera tersebut lebih dulu telah menunjukkan kekuatan barunya di kawasan Asia bahkan di dunia sekalipun.

Padahal China adalah suatu negara yang sangat besar dan pernah terseok-seok oleh kemiskinan dan ideologi Komunis-Sosialis. Hanya dalam waktu yang terhitung cukup singkat, ribuan perusahaan di Eropa, Asia, dan Amerika menjadi korban serbuan perdagangan China. Saat ini, China disinyalir tumbuh tiga kali lebih cepat daripada Amerika Serikat. Kebangkitan sang naga itu sendiri tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Butuh perjalanan panjang bagi China untuk menggapai itu semua sehingga kini tengah menjadi macan Asia.

China modern telah memberikan sebuah penampakannya yang sangat mengagumkan dan memesona. Menggambarkan keberhasilan akan kebijakan modernisasi dan reformasi ekonomi dan perdagangan secara ekstensif sejak tahun 1978. Menghasilkan banyak perubahan di seluruh wilayah negara Republik Rakyat China (RRC) mulai dari pesisir timur sampai ke ujung barat, dari kawasan selatan yang padat penduduknya sampai ke utara yang dingin hawanya.
Karena itu, tidak heran jika fenomena baru kebangkinan China saat ini begitu menarik banyak perhatian orang dari segala penjuru dunia. Para pebisnis, pengamat ekonomi, jurnalis, dan siapa pun yang ingin memahami secara lengkap fenomena kebangkitan ekonomi China dan dampak-dampak internasionalnya di berbagai bidang.

Buku dengan judul “China Naga Raksasa Asia (Rahasia Sukses China Menguasai Dunia)” menggambarkan betapa kemampuan bertahan karena para penduduknya, China dapat membangun suatu peradaban yang praktis sehingga tidak mudah tergoyahkan apalagi hancur. Penulis buku ini, A. Zaenurrofik, dengan bahasanya yang ringan, sederhana dan ringkas namun kuat dalam analisisnya, ternyata mampu mengungkapkan sekilas rahasia kekuatan China selama ini. Perkembangan peradaban yang berkemajuan sejak ribuah tahun sebelum masehi yang silam hingga di zaman mutkahir sekarang ini.

Lantaran peradabannya yang sangat tinggi itulah buku ini hadir sebagai media acuan, pemahaman, pembelajaran dan juga pengayaan intelektual bagi para pembacanya yang hidup di zaman ini. Singkatnya, dibanding buku-buku yang sejenis, buku ini tidak dapat dikesampingkan begitu saja untuk dijadiran referensi kemajuan China. Utamanya bagi perjalanan bangsa kita ini selanjutnya ke depan. Belajar dari negeri sanga naga yang kini menjadi raksasa baru dunia.

Tidak dapat dipungkiri lagi, China saat ini sudah mulai merongrong dominasi Barat dan tengah bersiap-siap untuk menjadi negara digdaya yang melampui negara-negara Barat bahkan Amerika Serikat sekalipun.Meskipun teramat panjang dan melelahkan untuk diikuti secara detail, namun ini adalah sebuah buku yang luar biasa. Buku yang membahas tentang kemajuan peradaban China agar nantinya dapat dijadikan spirit baru bagi kemajuan perabadan bangsa-bangsa lain termasuk negeri ini, Indonesia.

Dimana China kini tengah menapaki berbagai pembaharuan dan kemoderenan. Namun, tidak sama sekali melepaskan ikatan terhadap nilai-nilai tradisionalnya dibalik gegap gempitanya kebudayaan dunia yang masuk ke dalam peradabannya sendiri. Keberhasilah dan kejayaan China bukan hanya kemengangan bagi rakyat China semata, tapi sudah menjadi peradaban dunia yang patut diapresiasi dan menjadi sebuah inspirasi. Semoga!

*) Ahmad Makki HasanMahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Jumat, 30 Mei 2008

Gagasan:

Menguak Komersialisasi Demonstrasi

Oleh: Ahmad Zaenurrofik,
Peneliti di CSR (Center for Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember

Keresahan massa dipastikan muncul dan meluas mengingat terjadinya krisis kesejahteraan yang dipicu oleh kenaikan harga-harga. Aksi massa sebagai metode gerakan politik awalnya sangat efektif dan berguna untuk mengekspresikan tuntutan rakyat tentang isu-isu penggusuran tanah, menuntut kenaikan upah buruh dan memberi solidaritas pada korban PHK, hingga menjadi titik tekan bagi kekuasaan yang salah satu bentuk luar biasanya dibuktikan dengan turunnya Soeharto karena aksi massa yang meluas dan tak terbendung.

Pada awalnya metode aksi massa sebagai bagian dari gerakan demokrasi memang banyak dilakukan oleh mahasiswa. T
etapi belakangan metode itu juga diterima di semua sektor rakyat (entah petani, buruh, kaum miskin perkotaan, guru, dan lain sebagainya). Demonstrasi bukan lagi menjadi ”barang mahal” karena—selain tak lagi menghadapi resiko berhadapan dengan aparat negara yang kejam—dianggap cara mengungkapkan tuntutan dan ketidakpuasan atas kebijakan, tindakan, dan bahkan pandangan pemerintah atau kelompok sosial tertentu.

Komersialisasi Politik
Asal-muasal terjadinya komersialisasi demonstrasi tak dapat ditelusuri tanpa mengkaitkannya dengan gejala komersialisasi politik secara umum. Komersialisasi politik tak mungkin terjadi jika tidak ada individu atau kelompok politik yang ingin mewujudkan tujuannya dengan menggunakan uang untuk mempengaruhi situasi politik, menekan lawan politik, atau mengorganisir situasi tertentu agar kondisi politik yang tercipta menguntungkan pihaknya.

Komersialisasi politik adalah lagu lama dari politik uang (money politics). Dan itu adalah karakter dari politik kaum borjuis Indonesia yang terdiri dari banyak faksi baik dari tingkat lokal maupun daerah. Bukan hanya demonstrasi yang terkomersialisasi, tetapi juga momentum politik, sikap politik, bahkan suara politik (suara dalam pemilihan umum). Uang digunakan untuk memobilisasi kekuatan massa baik untuk mendukung maupun menyerang lawan, yang tujuannya agar sumber daya politik datang pada pihak yang melakukan politik uang.

Sebenarnya, sangat sulit sekali untuk lepas dari pertikaian antar elit borjuis yang tujuannya hanya memperoleh kekuasaan itu. Misalnya, pada saat massa rakyat melakukan demonstrasi untuk menolak hasil pemilihan kepala daerah, seakan-akan ia berada di pihak calon kepala daerah yang kalah. Atau pada saat tahun 2003 para mahasiswa dan sebagian sektor rakyat melakukan aksi massa besar-besaran menyerang kebijakan Megawati yang menaikkan bahan bakar minyak (BBM), maka konsekuensinya lawan politik Megawati diuntungkan.

Artinya, antara isu populis dan isu politis sekalipun membawa efek yang sama bagi persaingan politik di kalangan elit. Yang jelas ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari setiap demonstrasi yang dilakukan oleh massa rakyat, entah dengan jumlah massa yang sedikit atau banyak, entah dengan isu politik atau isu ekonomi (populis). Karena mengetahui bahwa efek dari demonstrasi dalam menghasilkan opini lumayan besar, maka dari sinilah para elit yang bertikai—yang selalu menggunakan uang untuk politiknya—juga membiayai dan bahkan mengorganisir demonstrasi dengan membayar massa. Para penyandang dana berada di balik layar, dengan mengeluarkan uang untuk membiayai peserta demonstrasi ia berharap akan mendapatkan pengaruh politik.

Gerakan Penyadaran
Bukan berarti hanya uanglah yang menggerakkan rakyat untuk terjun ke jalan dan melakukan tuntutan. Tidak semua mereka yang turun ke jalan dibayar. Bahkan tanpa adanya aksi massa, para elit atau pembuat kebijakan akan merasa aman dalam melakukan penyimpangan-penyimpangan. Dalam hal ini, aksi massa (demonstrasi) adalah bagian dari upaya melakukan kontrol sosial (social control).

Selain itu, ada aspek penyadaran dari tindakan demonstrasi atau aksi massa yang kian meluas, yang membuat rakyat sadar bahwa pembuat kebijakan memang melakukan penyimpangan. Artinya, setiap gejala radikalisasi massa yang muncul diharapkan akan mampu meningkatkan sense of crisis rakyat. Hanya dengan cara inilah demokrasi akan terjadi, yaitu dalam kondisi di mana rakyat tahu apa yang menyebabkan krisis dan rakyat terlibat aktif untuk menyalurkan ekspresi politiknya pada para penguasa.

Dalam hal ini aksi massa saat ini bukannya tidak berguna, tetapi justru diharapkan akan semarak dalam hal mengontrol dan memberi tekanan bagi pemerintah, pembuat kebijakan, dan penegak hukum agar janji-janji yang diucapkan pada kampanye lalu tidak hanya lip service. Termasuk untuk memberantas kasus korupsi, diperlukan tekanan yang menunjukkan bahwa rakyat saat ini butuh ketegasan dari pemerintah dan penegak hukum dalam hal ini, juga penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Semakin banyak masyarakat terlibat dalam gerakan menekan, opini di mediapun akhirnya akan menguat. Maka gerakan massa selain sebagai kontrol sebenarnya juga bisa digunakan untuk mendorong mood politik yang menggambarkan urgensi kehendak rakyat tentang apa yang harus dilakukan pemerintah dan aparat-aparat penegak hukumnya.

Menurut Ted Robert Gurr dalam bukunya Why Men Rebel (1970), penyebab suatu tindakan kekerasan politis yang elementer termasuk dalam hal ini gerakan radikal dari massa adalah timbulnya sikap ketidakpuasan (discontents) di kalangan masyarakat luas sebagai akibat adanya jurang antara value expectations dan value capabilities sehingga masyarakat sungguh-sungguh merasakan suatu yang hilang, yang dalam hal ini disebutnya dengan “deprivasi relatif” (relative deprivation). Lebih jauh studi tentang gerakan sosial umunya dilihat dalam kerangka analisis “tingkah laku kolektif”. Tingkah laku kolektif tidak selalu terjadi dalam bentuk kekerasan. Bisa jadi terjadi dalam bentuk aksi diam atau “penghindaran” (avoidance).

Di tengah krisis ekonomi akibat kenaikan harga-harga dan watak serta tindakan elit politik yang kian memalukan, kita tak bisa lagi menghindari terjadinya aksi massa di berbagai kota, termasuk Surabaya. Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa aksi massa akan menjadi pendidikan politik, baik bagi elit politik yang melakukan kebijakan egois maupun pada massa rakyat yang belum tersadarkan akan arti pentingnya membuat gerakan![]
===========================

Dimuat di MEDIA INDONESIA (Sabtu, 7 Juni 2008):

Tibet dalam Persaingan Cina dan Amerika Serikat (AS)

Oleh: Ahmad Zaenurrofik,
Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Judul: Revolusi Tibet (Fakta, Intrik, dan Politik Kepentingan
Tibet, Cina, dan Amerika Serikat)
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Garasi Book, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2008
Tebal: iv + 136 hlm


Pada saat Tibet bergolak mulai pertengahan Maret 2008 lalu, masyarakat dunia banyak yang tidak tahu bahwa pemberontakan rakyat Tibet pernah terjadi pada 41 tahun sebelumnya. Tepatnya tanggal 10 Maret 1959, rakyat Tibet yang kebanyakan para biksu yang disokong secara finansial dan persenjataan oleh Amerika Serikat (AS) melalui CIA (Central Intelligence Agency) melakukan pemberontakan. Pemberontakan tersebut gagal, tetapi perjuangan untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) tetap dilakukan melalui kampanye politik dengan tokoh utama Dalai Lama yang berkeliling dan berkunjung ke negara-negara Barat.


Maka ada kepentingan AS di Tibet. Tak mengherankan ketika demonstrasi peringatan Pemberontakan Tibet yang dilakukan de
ngan demonstrasi menapatkan reaksi dari Cina, AS sangat membesar-besarkan perlakuan Cina yang disebut ”represif” dan ”melanggar HAM”. AS juga mempelopori kampanye ”Boikot Olimpiade Beijing” tahun ini. Tujuannya agar Olimpiade 2008 Beijing gagal atau tercoreng. Sebagai bangsa yang kini tumbuh besar Cina akan merasa malu atau setidaknya pamornya bisa sedikit berkurang dalam pergaulan internasional, apalagi kalau tercorengnya dibumbui dengan citra sebagai pelanggar HAM. Tetapi itu adalah tujuan AS melalui medianya, agar Cina harus menyelesaikan pekerjaan politik yang berat ini. Kasus-kasus semacam Tibet diharapkan akan menyita tenaga Cina sehingga pertumbuhannya juga sedikit terganggu.

Buku ”Revolusi Tibet: Fakta, Intrik, dan Politik Kepentingan Tibet, Cina, dan Amerika Serikat” karya Nurani Soyomukti ini merupakan uraian yang cukup menarik dalam menganalisa berbagai macam kekuatan politik dan kentingan yang menyebabkan Tibet bergolak mulai pertengahan Maret 2008, setelah pada rahun 1959 juga pernah membara dengan terjadinya pemberontakan rakyat Tibet terhadap Cina. Perjuangan Tibet untuk melepaskan diri dari Cina nampaknya akan bangkit lagi.

Ketika belakangan ini Tibet kembali bergejolak, tentu saja hal itu bukan semata-mata terjadi melalui gerakan rakyatnya, tetapi memang telah direncanakan bersamaan dengan upaya yang sistematis untuk meluncurkan gerakan kembali protest rakyat Tibet dan jaringannya, dibarengi dengan blow-up media yang besar-besaran. Dan tak mungkin Amerika Serikat (AS) tidak bermain di sana.

Dalam memandang masalah Tibet, media memang memblow-upnya secara besar-besaran. Cina ditempatkan sebagai tertuduh oleh banyak pihak, sementara pihak demonstran Tibet yang memulai aksinya pada 10 Maret 2008—dalam rangka memperingati Pemberontakan Tibet (yang dibantu oleh CIA/AS)—mendapatkan simpati pada hal jelas-jelas mereka memang melakukan tindakan anarkis. Artinya, tindakan anarkis oleh rakyat Tibet tidak diangkat oleh media, agar memunculkan opini bahwa memang pada dasarnya pemerintah Cinalah (melalui aparatnya) yang represif. Dengan tujuannya adalah munculnya keyakinan dogmatis bahwa Tibet benar-benar ditindas oleh Cina. Hal ini akan membantu dan bahkan menyembunyikan seakan-akan bantuan AS murni dilandasi oleh idealisme dalam membela HAM, pada hal dalam sejarah perjuangan HAM AS selalu bermakna standar ganda.

Naiknya Cina sebagai raksasa baru ekonomi dari kawasan Asia merupakan ancaman terhadap hegemoni AS di wilayah ini. Karenanya masalah Tibet tak lepas dari pengaruh wilayah ini. AS sejak awal berusaha berada di pihak Tibet dan tak henti-hentinya membantu perjuangan rakyat Tibet melepaskan diri dari Cina, mungkin kalau Tibet merdeka AS akan dapat masuk ke wilayah itu untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya.

AS dan negara Barat iri dengan Cina, sehingga ingin mempermalukan Cina melalui kasus Tibet—kesimpulan itulah yang diangkat oleh sebuah media online Inggris, Spiked. Dalam sebuah artikel yang berjudul "Using Tibet to Settle Ccores with China" dalam media tersebut, seorang penulis bernama Brendan O'Neill (Edisi Monday 17 March 2008)
] menyebutkan bahwa Barat hendak menggunakan kesempatan kali ini (masalah Tibet) untuk mempermalukan (humiliating) dan memojokkan RRC di mata dunia menjelang Olympiade.

Dan Tibet dijadikan alasan sekaligus sebagai tumbal ("bogeymen"). Skenarionya adalah bahwa obor Olimpiade yang direncanakan akan melewati Lhasa nantinya, di situlah provokasi hendak diciptakan. Harapannya, dengan terjadinya peristiwa di Tibet ini maka masyarakat internasional akan memboikot pesta Olympiade ini.

Analisa yang objektif mengenai Tibet tentunya harus melihat dari berbagai macam kepentingan yang bisa dianalisa dari pernyataan-pernyataan yang harus dikaitkan dengan bukti-bukti yang ada. Tiap-tiap negara, terutama antara Cina dan AS, yang telah melibatkan diri dalam pernyataan dan tindakan mengenai masalah Tibet tentunya memiliki kepentingan masing-masing.

Karenanya, buku ini mencoba menggali kebenaran sejarah konflik Tibet dengan melihat berbagai macam kepentingan yang bermain di sana, agar cara pandang kita mengenai masalah Tibet tidak berat sebelah. Dari buku yang tidak ebal inilah kita bisa memahami berbagai macam kepntingan, baik dari pihak Cina, Tibet dan Dalai Lama, serta AS sebagai negara yang harus terus mencengkeram sumber daya alam negara lain agar kapitalisme-imperialisme yang dijalankannya tidak mandeg.

Menutur Nurani Soyomukti, hak menentukan nasib sendiri (self-determination) adalah harga mati dalam politik pergaulan antar bangsa. Tetapi apakah setelah Tibet merdekan akan terjadi pemenuhan hak-hak rakyat Tibet. Atau jangan-jangan setelah Tibet lepas dari Cina, modal AS akan masuk sehingga segala kandungan bumi Tibet menjadi milik modal internasional, aset medis tradisional Tibet akan menjadi hak paten kapirtalis farmasi, atau kedepannya pandangan ekologis Buddhisme akan enyah oleh ideologi ekploitatif kapitalisme neoliberal yang akan dipaksakan Amerika Serikat (hlm. 123).

Penulis juga menguraikan kehidupan para Lama, terutama Dalai Lama ke-14 yang merupakan sosok yang sangat dekat dengan AS, bahkan beberapa kali pernah bertemu Bush—seorang presiden AS yang kini banyak disorot karena kejahatan perangnya. Konon Dalai Lama adalah pejuang cinta damai, tetapi berdekatan dengan Bush yang merupakan “Penjahat Perang”, pembunuh anak-anak dan Ibu-ibu di Irak, mungkin akan menentukan cerita yang lain.
Dan penulis nampaknya cukup berhasil dalam menunaikan tugasnya meskipun buku ini cukup tipis. Yang terpenting adalah informasi dan analisa yang objktif dan tidak berat sebelah, yang membawa pembaca pada apa yang sebenarnya terjadi di Tibet di tengah percaturan politik dunia yang terus merangkak.[*]

=======================================

Resensi Buku:

Menguak Pertarungan Agama dan Sains

Oleh: Ahmad Zaenurrofik, Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Judul Buku: Bertuhan Tanpa Agama: Esai-esai Bertrand Russel tentang Agama,
Filsafat, dan Sains
Penulis: Betrand Russel
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, April 2008
Tebal: Xxxvi + 320 halaman


Pertentangan antara pengetahuan dan agama (science and religion) telah berlangsung sejak berabad-abad. Dalam sejarah muncul berbagai macam agama dan tidak sedikit muncul filsuf dan pemikir yang menolak untuk menjadikan agama sebagai satu-satunya penjelas bagi keberlangsungan kehidupan.

Sejak muncul berbagai macam ilmu pengetahuan baru pada jaman pencerahan di Barat (renaisans), perlawanan terhadap agama bisa dikatakan semakin menguat. Tercatat, terjadi pertentangan antara kekuatan produksi baru (pengetahuan dan teknologi) dengan doktrin agama yang berusaha dipertahankan oleh penguasa.
Misalnya, Copernicus digantung karena dengan bantuan teleskop telah menemukan fakta baru bahwa pusat tata surya adalah matahari (teori heliosentris). Ia dibunuh karena dianggap melanggar doktrin gereja yang telah mengatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi (teori geosentris).

Karya-karya Betrand Russel yang dubukukan dalam buku yang berjudul ”Bertuhan Tanpa Agama” ini juga merupakan wawasan yang kaya mengenai pertanyaan kritis oleh seorang pemikir terhadap agama, meskipun ia tak terjebak pada penolakan radikal pada agama sebagaimana kalangan ateis. Membaca karya ini akan memberikan pemahaman pada kita bahwa karya Russell tentang agama, filsafat, dan sains begitu rumit. Dalam perjalanannya sebagai seorang intelektual, pada awalnya Russell menemukan harapan besar menemukan kepastian dalam matematika dan logika; tetapi di bawah pengaruh Wittgenstein ia dengan berat hati memupus harapan tersebut dan sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan dalam semua bidang ternyata tak bisa diandalkan sepenuhnya. Ia menulis: ”Mengajarkan bagaimana hidup tanpa kepastian, namun tanpa dilumpuhkan oleh keragu-raguan, barangkali merupakan tugas utama filsafat yang pada jaman kita ini masih bisa dilakukan untuk mereka yang mempelajarinya” (hlm. 46).

Dalam esai berjudul ”Esensi dan Dampak Agama”, ia mengajukan dua pertanyaan: apa esensi agama itu? Dan, apakah perlu mempertahankan esensi agama itu? Russell mengaku sangat terkesan oleh Cina dan pada sikap santai rakyat Cina pada agama. Ia tertarik dengan kenyataan bahwa Konfusianisme yang berkuasa lebih menaruh perhatian pada etika daripada dogma. Sikap yang toleran ini sangat berbeda dari agama yang berkuasa di Barat, di mana agamanya hanya menekankan dogma dan keyakinan yang benar yang menyebabkan banyak penderitaan yang tidak perlu.

Esai berjudul ”Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen” merupakan tulisannya yang bernada paling semangat dalam melawan agama. Esai ini adalah ceramah yang ia sampaikan di Balai Kota Battersea pada Minggu 6 Maret 1927. Tulisan tersebut menimbulkan reaksi keras dari kalangan agamawan. Tetapi mereka yang sudah familiar dengan pandangan Russel tentang agama sesudah akhir Perang Dunia I tidak terkejut.

Buku ini tidak mencakup semua kumpulan karya Russell yang sangat banyak mengenai masalah agama. Esai mengenai filsafat dan sastra juga dapat dibaca dalam buku ini, sekaligus menunjukkan pada kita bahwa ia adalah intelektual yang mampu berbicara mengenai banyak bidang. Russel adalah orang sekuler dan mengakui dirinya sebagai pemikir bebas. Meskipun demikian, banyak yang mempelajari semua tulisannya mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengagumkan. Anak perempuannya, Katherine Tait, mengatakan bahwa ”Ayah mempunyai sifat yang sangat relijius, tipe seorang moralis yang peka yang akan menjadi pertapa suci di jaman yang lebih relijius”. Anthony Grayling mengatakan bahwa ”meskipun Russell keras pada agama namun ia adalah pribadi yang relijius” (hlm. x).

Russel kelihatannya melakukan dua pendekatan yang berbeda selama dua periode yang berbeda dari hidupnya. Tulisan-tulisannya sebelum 1920 adalah pembelaan terhadap kehidupan roh, dimaksudkan untuk mempertahankan agama tetapi tanpa ketergantungan pada dogma-dogma yang dalam penilaian intelektual yang jujur menjadi semakin sulit. Tetapi sejak tahun 1920-an, tulisannya tentang agama mulai menjadi polemis. Russell merasa terdorong menegaskan skeptisismenya mengenai kemungkinan agama akal karena menurutnya ”dewasa ini banyak ahli ilmu alam terkemuka dan beberapa ilmuwan biologi membuat pernyataan dengan mengatakan bahwa kemajuan mutakhir dalam ilmu pengetahuan telah membuktikan kesalahan materialisme lama” (hlm. 288).

Buku ini terbagi menjadi lima bagian. Dalam tiap-tiap bagian, kecuali bagian pertama, tulisan-tulisannya diurutkan secara kronologis, yang memungkinkan pembaca bisa mengetahui perkembangan pemikirannya serta berbagai cara di mana ia mengungkapkan berbagai pemikiran tersebut. Buku ini tak bisa diabaikan begitu saja bagi mereka yang ingin memperkaya dialog antara agama dan ilmu pengetahuan atau filsafat guna merumuskan pemikiran yang dialektis untuk menyikapi berbagai macam perkembangan yang terus terjadi dalam kehidupan keberagamaan dan kebangsaan kita.[*]

Gagasan:

Menggugat Politik Anti-Kritik

Oleh: Ahmad Zaenurrofik,Peneliti di CSR (Center for Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Ada gejala yang kian lucu dalam dunia perpolitikan kita. Beberapa waktu yang lalu beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merasa tersinggung dengan lirik lagu ”Gosip Jalanan” yang dinyanyikan oleh kelompok musik kenamaan, Slank. Bahkan protes itu oleh Badan Kehormatan (BK) DPR akan ditinjaklanjuti dengan mengambil langkah hukum.

Tentu saja kebanyakan opini publik menganggap bahwa reaksi DPR terhadap kritik melalui syair lagu Slank tersebut terlalu lucu dan naif. Lirik lagu Slan tersebut memang secara kentara ditujukan untuk kalangan anggota DPR yang selama ini memang tidak berfungsi sebagaimana mestinya sebagai penyambung aspirasi rakyat. Lirik lagu ”Gosip Jalanan” tersebut benar-benar terlalu terus terang: ”Mau tahu gak mafia Senayan/kerjaannya tukang buat peraturan/bikin UUD, ujung-ujungnya duit”.

Lirik tersebut memang bukan hanya cukup provokatif, tetapi nampaknya juga mengena dan objektif. Lalu apakah dengan lirik semacam itu lantas beberapa anggota DPR itu layak untuk mengambil tindakan hukum? Dalam pernyataannya, Ketua BK DPR Gayus Lumbuun mengatakan bahwa maksud dari pihaknya melaporkan Slank adalah untuk mendidik rakyat agar lebih santun.

Etika Demokrasi
Pernyataan Gayus Lumbuun itu jelas kontradiktif dengan watak DPR sendiri yang selama ini justru tidak memiliki etika. Jadi, pendidikan etika apa yang akan diajarkan oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang selama ini terkenal paling tidak memiliki etika politik (dan bahkan moral)?

Selama ini DPR tak memiliki moral karena pada saat mereka diharpakan memperjuangkan kepentingan rakyat yang membutuhkan kesejahteraan, yang dilakukan justru membantu meng-goal-kan kebijakan dan perundang-undangan yang menyengsarakan rakyat. Tercatat berbagai macam produk UU yang membuat nasib rakyat kian jauh dari harapan untuk melihat perbaikan nasib. UU Ketenagakerjaan, UU Modal Asing, dll yang semuanya mengesahkan terjadinya pengerukan modal (asing) untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya terhadap tenaga kerja (buruh) dan kekayaan alam Indonesia.

Kredibilitas moral para wakil rakyat juga diragukan karena pada saat rakyat sedang dirundung kesusahan akibat kenaikan harga-harga (bahan bakar minyak/BBM, sembako, dll), para wakil rakyat justru menuntut kenaikan gaji, plesiran ke luar negeri, bahkan banyak kasus-kasus yang memalukan seperti seks bebas dan skandal anggota DPR dengan artis (seperti kasus anggota DPR Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva setahun yang lalu). Hingga saat ini, kasus suap di kalangan DPR dalam skandal BLBI juga masih menjadi sorotan. Jadi mustahil DPR akan menjadi pendidik moral bagi rakyat.

Keniscayaan Kritik
Mengritik kritik dengan cara naif di kalangan politisi dan penguasa memang sering terjadi. Orang atau pihak yang melakukan kesalahan biasanya tak menginginkan kesalahannya kelihatan. Jika pelaku kesalahan yang mendapat kritik itu adalam para penguasa, biasanya mereka akan ber-reaksi dengan cara menggunakan media-media kekuasaan dan bahkan aparat koersif untuk merepresi kritik sebagaimana terjadi di era Orde Baru.

Tetapi nampaknya Orde Baru tak begitu mempedulikan lagu-lagu. Waktu itu lagu-lagu berisi kritik sosial-politik yang ditujukan oleh para penguasa bukan hal yang baru atau asing bagi kalangan musisi sekaligus rakyat (penikmat lagu yang mendengarkannya). Iwan Fals, misalnya, juga pernah melantunkan lirik yang ditujukan untuk para wakil rakyat yang ”seharusnya merakyat” tetapi hanya ”tidur waktu sidang soal rakyat”. Bahkan grup Elpamas, dengan lagu ”Pak Tua”-nya yang konon banyak diasosiasikan dengan presiden Soeharto yang pada usia tuanya masih tetap ingin menjadi presiden, juga tidak mendapatkan reaksi yang berlebihan dari kekuasaan.

Kritik merupakan suatu hal yang harus ada. ”Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. Jika kekuasaan cenderung korup, maka kritik adalah suara-suara yang bertujuan mengingatkan agar orang-orang yang memegang kedudukan dan kekuasaan tidak terlena dengan ”power” yang didapat. Jika kekuasaan yang didapat justru digunakan untuk menghilangkan suara-suata kritik, maka sudah jelas dapat dinilai bagaimana kekuasaan itu menunjukkan wataknya.

Di era keterbukaan seperti sekarang, apalagi pada saat penyimpangan banyak sekali dilakukan oleh pemegang kekuasaan, kritik sangat dibutuhkan. Kritik tajam dan mengena seperti dilakukan Slank dalam lagu “Gosip Jalanan” sudah pasti merupakan suatu capaian estetik dan kritis dalam lagu-lagu popular Indonesia. Kita patus berbangga memiliki musisi dan seniman seperti Slank yang masih merasa waras karena mau berbicara soal masyarakat dan penyimpangan-penyimpangan politik (kekuasaan), tidak seperti seniman-seniman atau para musisi lainnya yang hanya menebarkan kata-kata cinta manis, ya seperti para anggota DPR yang di masa kampanye penuh janji tetapi di belakang hari bukan hanya tak mau memperjuangkan kepentingan rakyat tetapi justru ketahuan mengejar enaknya sendiri. Wallahu’alam Bishawab!