Rabu, 19 November 2008

Gagasan:



Kaum Muda dan Bangsa (Bermental) ‘Tempe’

Oleh: Ahmad Zaenurrofik, Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Kaum muda Indonesia masa lalu sebenarnya adalah kaum yang gigih. Sebagaimana manusia-manusia muda yang berjuang dalam sejarah, mereka bekerja keras menghadapi alam untuk memperjuangkan kehidupannya. Mereka suka berburu binatang dan selalu kembali untuk membangun alamnya. Mereka ingin menikah dan mlahirkan anak-anak yang kuat dan maju. Alam nusantara yang kaya dan meruah, membuat kaum muda Indonesia masa lalu menjadi manusia berkebudayaan.

Sayangnya, penindasan feudalisme kerajaan membuat produktifitas dan kerja keras kaum muda terhisap. Mereka harus dimobilisasi oleh bangsawan dan raja-raja untuk berperang, mereka dipisahkan dari orangtua dan kekasih yang dicintainya. Mereka bahkan harus bekerja keras di ladang-ladang tetapi hasilnya harus disetorkan ke pada keluarga raja-raja melalui upeti. Hanya sedikit kaum muda yang mendapatkan perlakuakn istimewa, yaitu anak-anak kalangan raja dan bangsawan yang mendapatkan pendidikan di istana dan berbagai fasilitas yang luar biasa.

Berlangsungnya tatanan feodalistik ini membuat produktifitas kaum muda tumpul dan kalau berkembang juga sangatlah lambat. Masalahnya corak produksi yang berbasis pada tanah ini tak memungkinkan terjadinya penemuan hal-hal baru. Berbeda dengan Barat yang mulai pada Abad ke-17 kaum mudanya sudah menikmati ilmu pengetahuan dan teknologi dan mampu mencipta hal-hal baru, kaum muda Indonesia masih terkungkung dalam masyarakat yang terbelakang. Dan sayangnya, penjajahan modern dari Barat (kolonialisme) ke nusantara juga tak merubah karakter mental produktif-kreatif di kalangan generasi muda.

Saat kekuatan Barat masuk ke Indonesia, kebodohan dan mentalitas terbelakang masih berupaya dibentuk oleh penjajah. Mental dan watak manusia dibentuk oleh suatu kondisi material-historis. Persenyawaan dengan keterbelakangan feudalisme dan kapitalisme-kolonial telah membuat bangsa ini menjadi bermental ‘terbelakang’ yang dalam hal tertentu kadang menjijikkan. Ada kepengecutan, keraguan, pesimisme, menjilat, dan tidak percaya diri atau tidak percaya pada kebenaran.

Bung Karno sendiri dalam ‘Penyambung Lidah Rakyat’ (1966: 45) mengatakan bahwa penjajahan (imperialisme) telah membuat bangsa kita menjadi “negeri tempe”. Bung Karno mengatakan: “Tempe adalah bungkah yang lunak dan murah terbuat dari kacang kedelai yang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Itulah kami jadinya. Kami terus-menerus dikatakan sebagai negeri yang lunak seperti kapas. Kami menjadi pengecut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun yang kami lakukan selalu salah. Kami menjadi rakyat seperti dodol dengan hati yang kecil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami menjadi bangsa yang hanya dapat membisikkan, ‘Ya, Tuan’. Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih mereka pegang teguh secara tidak sadar... Ejekan yang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menyebabkan kami yakin tentang hal tersebut. Dan keyakinan bahwa engkau adalah bangsa yang hina lagi bodoh adalah senjata yang ada dalam tangan penjajah. Imperialisme adalah kumpulan kekuatan jahat yang nampak dan tidak nampak”.

Apa yang dikatakan Bung Karno tersebut adalah mengenai imbas penjajahan ekonomi terhadap mental bangsa kita. Jika pada era feudalisme kerajaan rakyat dipaksa patuh pada raja-raja, saat kolonialisme datang rakyat juga masih diperlakukan sama, tentunya dengan ekploitasi dan penghisapan pada tenaga rakyat yang lebih telanjang dan tanpa malu.

Kapitalisme Gerus Jati Diri
Peringatan Bung Karno tentang penjajahan kapitalisme-imperialisme itu masih berlangsung hingga sekarang. Kapitalisme tersebut tumbuh hingga ia mengenyangkan lapangan ekploitasi dalam masyarakat Barat sendiri. Barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Timur, diekspor ke Timur kembali; jadi, Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih (over-produksi) di Barat. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk modal berlebih yang tak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Karenannya tak mengherankan jika kini kaum muda menjadi sasaran produk dari kapitalis asing. Caranya adalah agar kaum muda hanya mampu membeli dan meniru, agar kaum muda lebih merasa eksis berada di mall-mall atau mengonsumsi produk-produk. Kaum muda hanya dijadikan korban iklan agar mnjadi pembeli adiktif, dam agar kaum muda kita tak dapat mencipta, berpikir, kreatif. Tujuannya agar kapitalis Barat tak tersaingi dengan negara-negara seperti Indonesia: kalau tenaga produktif tumpul, maka kita diharapkan jadi pasar dari produk-produk kapitalis asing.

Selain itu, diciptakanlah psikologi individualisme yang membuat kaum muda cuek pada realitas kehidupan dan lingkungannya. Dan individualisme adalah sebab-musabab dari mundurnya kualitas kehidupan di negeri ini. Orang hanya tahu bahwa untuk meningkatkan kehidupan mereka harus bersaing: Persaingan adalah ‘mantra’ yang harus diucapkan dan dicekokkan pada tiap generasi sejak anak-anak. Kerjasama dan persatuan untuk menghadapi hidup yang kontradiktif dan pada dasarnya bersumber pada penjajahan (penindasan) dihilangkan dari kamus kemanusiaan. Ajaran persatuan dan perjuangan dari para pendiri bangsa (founding fathers) dihilangkan dari kamus yang seharusnya dibaca oleh kaum muda. Bung Karno telah mengingatkan pada kita: Jas Merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah! Dan anak-anak muda era kini telah kehilangan sejarah perjuangan, kehilangan prinsip dan idealisme. Mereka hanya mabuk cinta, cinta kacangan dan kebebasan ala lagu-lagu popular! Lalu bagaimanakah masa depan negeri ini ke depan? Wallahu’alam… []

---------------------------------------------------

Tidak ada komentar: