Rabu, 19 November 2008

Seni:

Melacak Genealogi Metal Hard Core

Oleh:A. Zaenurrofik, Penikmat Musick

Metal Hard Core (metal core), pada awal kemunculannya merupakan fusi dari konsep bermusik metal, yang digabungkan dengan teknik vocal Hard Core.Genre ini lahir untuk mengembalikan makna asali da
ri metal itu sendiri—yakni metal sebagai musik yang menghentak keras. Kekerasan dalam musik metal, semakin terdistorsi semenjak lahirnya genre New Metal.[1]

Metal Core mengalami perkembangan yang pesat di awal-awal tahun 2000. kejenuhan akan genre New Metal dan kerinduan akan kebangkitan metal dengan kemasan baru, semakin mmempercepat perkembangan aliran ini, yang bisa diukur dengan menjamurnya group-group musik baru yang mengambil aliran Metal Core seperti; Spineshank, Killswitch Engage, Lamb of god, Trivium, Shadows Fall, dll. Meskipun sebenarnya perlu dilakukan pemetaan ulang terhadap kecenderungan genre ini lebih dekat ke arah konsep apa—namun sudah terjadi generalisasi bahwa, setiap musik baru yang menggabungkan unsur musik metal dan unsur musik lain—seperti death metal, Black Metal, dan Speed Metal, selalu dilabeli aliran Metal Core.

Generalisasi ini sudah diterima secara luas oleh pecinta metal. Padahal, menurut hemat saya, tidak semua group band metal baru bisa dimasukkan ke dalam genre Metal Core. Beberapa group baru yang secara serampangan dimasukkan ke dalam genre ini seperti misalnya, The Black Dahli Murder, Lamb Of God, Children of Bodom, In Flames, Devil Driver, dan Arch Enemy. Kalau kita cermati konsep bermusik mereka, tentu akan jauh dari hakekat Metal Core. Konsep musik dari group-group tersebut berkecenderungan lebih dekat kepada genre lainnya. The Black Dahlia Murder misalnya, konsep bermusiknya lebih ke Death Metal. Penandanya adalah, mereka memainkan musik yang hampir-hampir menyerupai Death Metal. Beat-beat drumnya, sama sekali jauh dari tradisi bermusik Trash atau Speed Metal.

Teknik vocalnya juga tidak bisa dikategorikan masuk ke dalam teknik vocal Hard Core. Teknik ini lebih dekat kepada teknik vocal Black Metal, sementara selingan vocal growl, merupakan tradisi nge-growl ala Death Metal. Demikian pula dengan Lamb of God. Mereka dengan tegas menolak penyebutan khalayak atas konsep musik mereka yang dikategorikan sebagai Metal Core. Simaklah teknik vocal Blythe. Ia memadukan teknik “semi growl” yang dipadukan dengan scream ala Black Metal. Apalagi bagi Children of Bodom. Konsep bermusik mereka terkesan aneh dan unik karena tidak lazim seperti genre yang ada.
[2] Devil Driver, juga jauh dari Metal Core. Vocal Fafara yang Khas, tidak masuk dalam kategori Death atau Hard Core.

Barangkali ia mencoba untuk memadukan teknik vocal Growl ala Death Metal dengan tradisi bermusiknya sendiri, sehingga tercipta teknik vocal yang khas dan baru. Itulah salah kaprah yang diterima secara luas oleh para insan pecinta metal.
Didapati kesan, group-group band metal baru ini merindukan kejayaan metal dalam konteks sekarang. Simaklah beberapa album dari band baru ini yang “feel” nya terasa sangat dipengaruhi oleh Trash (seperti Trivium dan Shadows Fall), disemangati oleh Death Metal (seperti The Black Dahlia Murder dan Arch Enemy), diilhami oleh Black Metal (seperti Children of Bodom), meski banyak juga yang merindukan Hair Metal.
[3]
Yang barangkali kerap terlupakan oleh penikmat metal core adalah, mereka lupa unuk melacak asal-usul gen (genealogi) Metal Core. Melacak asal-usul berarti kita harus mencari beberapa referensi band-band metal sebelumnya yang menjadi inspirasi bagi lahirnya genre metal core. Menganalisa secara kesejarahan, akan memberikan pemahaman bahwa, tiada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba dan tiada sesuatu yang mendahuluinya—sehingga tiada kesan pemahaman yang ahistoris.


Sepanjang pengetahuan saya, band yang pertama kali memasukkan unsur hard core dalam tradisi metal adalah Anthrax. Diawal kemunculannya, mereka telah memasukkan unsur hard core. Album Among the Living misalnya, terasa unsur hard core pada musiknya, meskipun vocalnya tetap menggunakan teknik vocal trash laiknya trash pada jamannya. Dialbum-album berikutnya, Anthrax tetap memadukan unsur hard core dengan unsur metal dalam permainan musiknya. Baru di album Sound of White Noise, dengan pergantian Vocal-- Jhon Bush
[4], unsur hard corenya tak sekental album-album Anthrax sebelumnya. Barangkali ini juga menyesuaikan dengan karakter vocal Jhon Bush yang bening dan bersih. Panthera juga memasukkan unsur hard core dalam musiknya. Album Cowboy From Hell, Vulgar Display, dan album lainnya, banyak dijumpai unsur hard core nya.

Di dapati pula Demolition Hammer di album Time Bomb (1994). Mereka mengubah konsep musik mereka—yang sebelumnya Trash Death, dengan memasukkan beat-beat hard core, dan kesan hard core pada teknik vocalnya. Alex Marquez[5], merubah pola permainan drum menjadi lebih soft.[6]

Pun demikian dengan band Kreator. Perbedaaan dengan album meraka yang sebelumnya, seperti Coma of Soul, Pleasant to Kill ditemukan Pada album Cause for Conflict. Di album ini mereka memasukkan unsur hard core. Beat-beat mereka yang sebelumnya kencang, konstan, berkurang konstannya, dengan terasuki oleh beat-beat yang terputus-putus laiknya beat hard core.

Beberapa band-band metal besar tesebut di atas, menurut hemat saya, merupakan inspirator utama bagi kelahiran band-band metal core saat ini. Berdasar tesis, tak ada sesuatu yan muncul secara tiba-tiba tanpa terlebih dulu yang mendahului kemunculannya, atau yang menjadi sebab kemunculannya. Sebagai penegas, band-band metal core yang eksis saat ini secara eksplisit selalu menyampaikan ucapan erimaksih kepada band-band metal pendahulunya, yang banyak memberikan inspirasi bagi karya-karya mereka. Sehingga tidak lah berlebihan bahwa kerinduan akan metamorfosis metal yang tidak melupakan esensi kemetalannya terujud dalam band-band ekstrem saat ini.
_____________________
Tentang penulis:
Penulis adalah pengagum keindahan mahakarya Metal, Classic Rock, dan Blues yang lahir dari sentuhan tangan dingin para pencipta musik indah tersebut. Saat ini penulis masih suka blusukan di tempat-tempat di mana kaset/cd di jual untuk sekedar melihat atau jika punya uang, membeli kaset/cd tersebut.

Catatan Kaki:
[1] New metal muncul sebagai respon terhadap konsep bermusik lama, sehingga dalam konsep bermusik new metal ini banyak yang meninggalkan pakem bermusik metal sebelumnya, seperti meninggalakan tradisi speed melody, dan diganti dengan distorsi gitar saja , tempo permaninan musik yang tak se ekstrem metal sebelumnya, juga dari attitude, jarang dijumpai musisi yang menganut genre new metal memanjangkan rambut, memakai jaket kulit, dan beratribut serba hitam.
[2] Children of Bodom sebelumnya memainkan musik Black Metal.
[3] Seperti Avanged Seven Fold, yang dibeberapa albumnya memasukkan unsur hair metal. Mereka meramu beberapa konsep musik seperti punk, hard core, dan hair metal. Demikian pula dengan Still Remain, yang di album terbarunya banyak meninggalkan tenik vocal hard core, dan banyak ditemukan unsur hair metal didalamnya.
[4] Jhon Bush sebelumnya menjadi vocalist Band Armored Saint.
[5] Alex Marquez juga menjadi penggebuk drum pada Band Death Metal Malevolent Creation. Di sinilah kita bisa melihat piawaina Alex Marquez melakukan improvisasi musik. Di Malevolent Creation, gebukan drumnya, sangat rapat, variativ, dan full power. Sementara di demmolition Hammer pada album Time Bomb ini, ia merubah pola permainan rapatnya, untuk bereksperimen dengan memasukkan beat-beat hard core.
[6] Bandingklan juga album Time Bomb ini dengan album sebelumnya, seperti album Epidemic. Di sini akan ditemukan perbedaan konsep mereka. Di album Epidemic, masih kental unsur Trash-Death nya.




----------------------------------------------

Gagasan:



Kaum Muda dan Bangsa (Bermental) ‘Tempe’

Oleh: Ahmad Zaenurrofik, Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember


Kaum muda Indonesia masa lalu sebenarnya adalah kaum yang gigih. Sebagaimana manusia-manusia muda yang berjuang dalam sejarah, mereka bekerja keras menghadapi alam untuk memperjuangkan kehidupannya. Mereka suka berburu binatang dan selalu kembali untuk membangun alamnya. Mereka ingin menikah dan mlahirkan anak-anak yang kuat dan maju. Alam nusantara yang kaya dan meruah, membuat kaum muda Indonesia masa lalu menjadi manusia berkebudayaan.

Sayangnya, penindasan feudalisme kerajaan membuat produktifitas dan kerja keras kaum muda terhisap. Mereka harus dimobilisasi oleh bangsawan dan raja-raja untuk berperang, mereka dipisahkan dari orangtua dan kekasih yang dicintainya. Mereka bahkan harus bekerja keras di ladang-ladang tetapi hasilnya harus disetorkan ke pada keluarga raja-raja melalui upeti. Hanya sedikit kaum muda yang mendapatkan perlakuakn istimewa, yaitu anak-anak kalangan raja dan bangsawan yang mendapatkan pendidikan di istana dan berbagai fasilitas yang luar biasa.

Berlangsungnya tatanan feodalistik ini membuat produktifitas kaum muda tumpul dan kalau berkembang juga sangatlah lambat. Masalahnya corak produksi yang berbasis pada tanah ini tak memungkinkan terjadinya penemuan hal-hal baru. Berbeda dengan Barat yang mulai pada Abad ke-17 kaum mudanya sudah menikmati ilmu pengetahuan dan teknologi dan mampu mencipta hal-hal baru, kaum muda Indonesia masih terkungkung dalam masyarakat yang terbelakang. Dan sayangnya, penjajahan modern dari Barat (kolonialisme) ke nusantara juga tak merubah karakter mental produktif-kreatif di kalangan generasi muda.

Saat kekuatan Barat masuk ke Indonesia, kebodohan dan mentalitas terbelakang masih berupaya dibentuk oleh penjajah. Mental dan watak manusia dibentuk oleh suatu kondisi material-historis. Persenyawaan dengan keterbelakangan feudalisme dan kapitalisme-kolonial telah membuat bangsa ini menjadi bermental ‘terbelakang’ yang dalam hal tertentu kadang menjijikkan. Ada kepengecutan, keraguan, pesimisme, menjilat, dan tidak percaya diri atau tidak percaya pada kebenaran.

Bung Karno sendiri dalam ‘Penyambung Lidah Rakyat’ (1966: 45) mengatakan bahwa penjajahan (imperialisme) telah membuat bangsa kita menjadi “negeri tempe”. Bung Karno mengatakan: “Tempe adalah bungkah yang lunak dan murah terbuat dari kacang kedelai yang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Itulah kami jadinya. Kami terus-menerus dikatakan sebagai negeri yang lunak seperti kapas. Kami menjadi pengecut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun yang kami lakukan selalu salah. Kami menjadi rakyat seperti dodol dengan hati yang kecil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami menjadi bangsa yang hanya dapat membisikkan, ‘Ya, Tuan’. Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih mereka pegang teguh secara tidak sadar... Ejekan yang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menyebabkan kami yakin tentang hal tersebut. Dan keyakinan bahwa engkau adalah bangsa yang hina lagi bodoh adalah senjata yang ada dalam tangan penjajah. Imperialisme adalah kumpulan kekuatan jahat yang nampak dan tidak nampak”.

Apa yang dikatakan Bung Karno tersebut adalah mengenai imbas penjajahan ekonomi terhadap mental bangsa kita. Jika pada era feudalisme kerajaan rakyat dipaksa patuh pada raja-raja, saat kolonialisme datang rakyat juga masih diperlakukan sama, tentunya dengan ekploitasi dan penghisapan pada tenaga rakyat yang lebih telanjang dan tanpa malu.

Kapitalisme Gerus Jati Diri
Peringatan Bung Karno tentang penjajahan kapitalisme-imperialisme itu masih berlangsung hingga sekarang. Kapitalisme tersebut tumbuh hingga ia mengenyangkan lapangan ekploitasi dalam masyarakat Barat sendiri. Barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Timur, diekspor ke Timur kembali; jadi, Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih (over-produksi) di Barat. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk modal berlebih yang tak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Karenannya tak mengherankan jika kini kaum muda menjadi sasaran produk dari kapitalis asing. Caranya adalah agar kaum muda hanya mampu membeli dan meniru, agar kaum muda lebih merasa eksis berada di mall-mall atau mengonsumsi produk-produk. Kaum muda hanya dijadikan korban iklan agar mnjadi pembeli adiktif, dam agar kaum muda kita tak dapat mencipta, berpikir, kreatif. Tujuannya agar kapitalis Barat tak tersaingi dengan negara-negara seperti Indonesia: kalau tenaga produktif tumpul, maka kita diharapkan jadi pasar dari produk-produk kapitalis asing.

Selain itu, diciptakanlah psikologi individualisme yang membuat kaum muda cuek pada realitas kehidupan dan lingkungannya. Dan individualisme adalah sebab-musabab dari mundurnya kualitas kehidupan di negeri ini. Orang hanya tahu bahwa untuk meningkatkan kehidupan mereka harus bersaing: Persaingan adalah ‘mantra’ yang harus diucapkan dan dicekokkan pada tiap generasi sejak anak-anak. Kerjasama dan persatuan untuk menghadapi hidup yang kontradiktif dan pada dasarnya bersumber pada penjajahan (penindasan) dihilangkan dari kamus kemanusiaan. Ajaran persatuan dan perjuangan dari para pendiri bangsa (founding fathers) dihilangkan dari kamus yang seharusnya dibaca oleh kaum muda. Bung Karno telah mengingatkan pada kita: Jas Merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah! Dan anak-anak muda era kini telah kehilangan sejarah perjuangan, kehilangan prinsip dan idealisme. Mereka hanya mabuk cinta, cinta kacangan dan kebebasan ala lagu-lagu popular! Lalu bagaimanakah masa depan negeri ini ke depan? Wallahu’alam… []

---------------------------------------------------